ceritabundas

ah, untung topik kali ini jauh-jauh dari mall, bisa mati gaya saya kalo disuruh cerita tentang mall.. secara saya ini jarang banget nge-mall. Terakhir ke mall itu pas lebaran kemarin, itupun bukan mall pada umumnya tapi mall semacam CITOS yang banyak makanannya, di Surabaya namanya SUTOS.

Ngomongin soal mall yang ada pasti nggak jauh jauh dari era konsumerisme, and I really hate that. Saya tidak ingin anak saya tumbuh jadi anak yang mementingkan benda-benda duniawi, saya ingin dia tumbuh jadi anak yang perduli bahwa hidup itu tidak hanya sekedar kesenangan membeli barang-barang bermerk dan mainan mainan yang sedang ngetrend saat itu.

Saya tumbuh di keluarga yang hobi jalan-jalan ke mall, ibu saya doyan banget jalan, walaupun beliau jarang sekali berbelanja, beliau hanya suka menyenangkan hati anak-anaknya dengan membelikan apa yang kami mau. Alhamdulillah-nya kami tidak tumbuh menjadi anak-anak yang konsumtif, kami terbiasa untuk membeli satu barang yang kami inginkan tapi harus awet dipakai. Akhirnya saya mewariskan pelajaran itu ke anak saya, instead of membeli banyak barang yang murah tapi tidak diperlukan lebih baik ia memilih satu barang yang sedikit mahal namun awet dipakai, sepatu misalnya. Nilai ekonomis ini tentunya berguna bukan di masa depannya.

Nah lo, kok jadi ngomongin mall…. *duh saya los pokus kan*

Back to weekend non mall deh,
beberapa saat yang lalu saya mengajak si bocah outbond di Jogja, maksud hati sih biar kompak gitu ya, emak ama anak barengan wall climbing, manjat manjat jembatan yang dari jalinan tali dan balik lewat flying fox….
ternyata nasib berkata lain,

saya tumbang sejak tantangan pertama yaitu wall climbing -_-! rupanya saya tidak mampu mengangkat badan saya sendiri, dan perpaduan wall climbing dengan kaki nyeker itu tidak bagus, sudahlah… akhirnya ibu-ibu ini pun mlipir dan gagal outbond. ๐Ÿ˜€
Lucunya, anak saya yang saya pikir akan ketakutan mengikuti seluruh rangkaian outbond itu justru gagah berani menyelesaikan semua tantangannya.
Ah ternyata saya salah menilai anak saya sendiri, dan bersyukurlah karena saya memilih weekend saya kali ini dengan kegiatan alam seperti ini, saya jadi lebih tahu lagi sekarang bahwa saya ternyata tidak perlu khawatir anak saya tumbuh menjadi anak penakut yang tidak mampu menerima tantangan dalam hidupnya…

nih poto2nya

 

Advertisements

Sejak pindah ke rumah baru, saya dan Cinta jarang banget menghabiskan akhir pekan menyusuri mall. Bukan cuma karena malas nyetir sendiri tapi juga malas berdesakan di mall yang pasti penuh. Lagipula kurang seru kalau cuma pergi berdua karena sehari-hari papanya Cinta kerja di luar negeri dan hanya libur tiap 2 bulan. Karena Cinta sekolahnya masih 3 kali seminggu, biasanya kalau mau belanja bulanan atau sekedar main di gamezone, kami ngemall pada hari kerja karena lebih sepi dan nyaman. Lain halnya saat papanya Cinta sedang libur di Jakarta. Akhir minggu kami habiskan dengan berjalan-jalan di mall, meski itupun seringnya cuma untuk makan dan main.

Akhir pekan kami seringnya diisi dengan bermalas-malasan di rumah, kruntelan nonton tv sampai bosen, atau main dan buat prakarya berdua. Tapi belakangan kami punya kegiatan baru, yaitu ikut senam dan olahraga di lapangan dekat rumah. Senamnya sih buat ibu-ibu, jadi Cinta cuma berdiri aja. Kadang kalau gerakannya nggak terlalu sulit dia ikut juga. Setelah itu lari-lari di jogging track lanjut nonton anak-anak latihan Taekwondo sambil main di arena bermain dekat situ.

Prakarya dari kulit telurBerenang
Bikin KueOlahraga Minggu Pagi
Main Sepeda Sore SoreBelajar Masak

Berhubung di komplek perumahan kami ada kolam renang, kami juga suka berenang pada hari Sabtu atau Minggu. Tepatnya main air karena Cinta belum bisa berenang dan emaknya cuma nemenin anak main di kolam anak kecil. Dengan harga tiket masuk yang cukup murah, Rp 12,500 per orang di hari Sabtu-Minggu dan hari libur nasional, berenang di sini benar-benar jadi hiburan yang murah meriah. Untuk jajannya kadang bawa makanan dari rumah tapi nggak jarang juga beli jajanan di kantin sport centre.

Kalau sudah kehabisan ide mau ngapain lagi, bikin kue bareng Cinta pun jadi pilihan. Cinta paling suka disuruh bantu pegang mixer dan menghias kue. Bahkan nggak jarang dia berusaha untuk melakukan semuanya sendiri. Sampai suatu hari sengaja saya cari satu resep di mana Cinta bisa membuat sendiri kue dari awal sampai akhir, mamanya tinggal bantu memasukkan ke dan mengeluarkan dari oven. Sayang di rumah ini kami belum punya oven, jadi kue yang dibuat pun terbatas jenis roti kukus. Tapi lumayan buat camilan dan bekal sekolah Cinta, sekaligus ajang latihan si bocah yang bercita-cita jadi princess yang pinter bikin kue ๐Ÿ™‚

Buat kami, akhir pekan nggak identik dengan pergi ke mall dan belanja. Sesekali memang menyenangkan tapi kalau tiap minggu bisa bikin jebol kantong juga ya ๐Ÿ˜€ Inginnya sih mulai minggu ini rutin ikut senam dan berenang di hari Minggu, selain murah meriah juga bisa membuat badan sehat. Semoga semangat kami tetap terjaga. Selamat berakhir pekan.

xoxo,

Photobucket

Saat dapet tema weekend without mall, sudah kebayang pasti yang paling seru yang anaknya uda bisa diajak lari-lari ๐Ÿ™‚ atauย  pasutri *halah* yang baru banget menikah, so mereka masih bisa ikut extreme sports etcetera..Tapi buat parents yang anaknya masih dibawah 1 year old ga berarti manyun juga si pas weekend –tanpa mall.

Ini option yang selama ini kami lakukan sejak baby Kei lahir..dari yang most favourite,,,sampai least favourite,,, ๐Ÿ™‚

1. Ancol,,

Sebenernya,dibilang murah banget engga si,, tp berhubung baby Kei jg blm dibawa masuk gelanggang/dufan krn blm ngerti jd cuma bayar tiket masuk…dan..lain2..;D

Dari jaman hamil, entah kenapa saya jadi seneng ke ancol -pantai- yang paling bumil dan baby friendly di jakarta ini.ย  Biasanya saya kesana sama suami pagi-pagi ngejar sunrise. Dan itu yang kita lanjutkan sampai Kei lahir. selama ini baru 3 kali si, Kei diajak ke Ancol, tapi dia tampak senang *kayaknya ya hahah*

Ritmenya masih sama..berangkat abis subuhan dan langsung menuju spot yang kita suka (ya deket2 situ ada resto a*wnya hehe) jadi tinggal jalan pake stroller nyusurin ancol *ga seluruh ancol si,hahah gempor* krn masih pagi biasanya pantainya masih lebih sepi juga,jd masih enak mbasahin kaki (i know aernya ga bersih -_-) dan ngerasain pasir di kaki.. bahkan kei juga uda ngerasain pasir2 ini di kakinya..

Oma,opa dan tantenya Kei tyata tertarik ikutan di kunjungan kedua dan tiga, jd bisa gantian de sambil olahraga pagi megang Kei, disana kita pernah sewa sepeda (10 ribu, tp liatin karcis masuk ancol dan ktp) jadi bisa juga bawa sepeda sendiri..naik perahu dan bebek2an di ancol..:) biasanya makan pagi disana juga, dilanjutkan jalan lagi dan pulang sebelum lunch, krn makin siang makin rameee ๐Ÿ˜‰

Ke tempat ini kl pagi masih menyenangkanlah, udaranya seger2 angin laut, dan ga menguras kantong kyk ke mall yg buntut2nya bsa kluar lbh banyak.. so far ini wiken tanpa mall terfavorit kami ๐Ÿ˜‰

2.ย  Acara masak2an di rumah

Acara seharian dirumah udah jelas weekend termurah, tp bisa diisi dari pagi-sore dengan jalan2 keliling kompleks, ngajak Kei berenang di kolam renang bayi-nya/ kolam renang kompleks, saya masak2an dan kei-nya maen sama papanya, dan kruntelan. kapan lagi bisa kruntelan bareng lama selain weekend,ya ga? ๐Ÿ˜‰ *priceless*


3.ย  Visit ke rumah sodara2

ya berhubung keluarga suami sukanya ngunjungi sodara2, ini jadi salah satu aktivitas weekend tanpa mall kami, tapi paling banyak sebulan sekali saja yaa, sekalian silaturahmi..ga terlalu suka si, mknya ini masuk least favourite saya (you know why -lah)

hahah -_-

by: @jolie_mitra

Keisha’s mom

Di suatu Sabtu yang cerah ceria, Ayah Padma tiba-tiba terinspirasi untuk mengajak Padma ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Keterlaluan memang jika kami belum pernah menjejakkan kaki di sini setelah beberapa bulan pindah ke Jagakarsa, karena jarak TMR ke rumah kami hanya selemparan batu AKA dekat sekali. Malas bawa mobil? hehe tak masalah … karena dengan hanya bermodalkan 2000 rupiah per orang, kami sudah bisa duduk manis di angkot dan sampai di depan pintu timur TMR.

Sepertinya TMR masih menjadi pilihan bagi banyak keluarga Jakarta dan sekitarnya yang ingin mencari hiburan sekaligus memberikan edukasi tentang satwa kepada anak-anak mereka ataupun bagi pasangan yang sekadar berjalan-jalan, ingin berkencan dengan biaya minim. Bagaimana tidak, hanya dengan merogoh kocek Rp. 4.000 untuk dewasa dan Rp. 3.000 untuk anak-anak (+ asuransi Rp. 500), para pengunjung sudah dapat menyaksikan kurleb 3.000 satwa yang ditampung dalam lahan seluas 147 hektar. Maka tak ayal, setiap akhir pekan TMR selalu dijejali pengunjung yang datang tak hanya dari Jakarta, namun juga dari kota-kota di sekitarnya. Angka ini akan berlipat fantastis jika sudah memasuki libur sekolah dan libur hari raya. Jika saat-saat ini tiba, sepertinya kita akan lebih dominan melihat para pengunjung dibandingkan dengan satwanya ๐Ÿ˜€ <–yang ini pengalaman pribadi sebagai volunteer di TMR :D.

Awalnya acara plesir ini berjalan dengan lancar. Jika selama ini Padma melihat berbagai figur binatang hanya melalui buku ataupun tayangan Baby Einstein, kali ini Padma berkesempatan melihat binatang-binatang tersebut secara live. Dia suka sekali melihat gajah-gajah yang sedemikian besarnya berjalan-jalan di dalam kandang, dan dia pun kerap memekik kegirangan ketika kuda yang difungsikan sebagai penarik andong mulai dijalankan. Gajah … sudah, penarik andong kudaย  … sudah, rusa juga sudah, masih ada dua ribu sekian satwa lain yang bisa kami lihat. Namun, faktor “U” ternyata sangat berpengaruh pada kelangsungan acara plesir kali itu. Menyandang beban 10 kg di pundak sembari berjalan hilir mudik kesana-kemari ternyata bukan perkara yang mudah lagi bagi kami. Merasa tak sanggup memutari sisa TMR (yang saya yakin kami belum ada 10%nya menjajaki tempat tempat itu), akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi Pusat Primata Schmutzer (PPS) saja.

Waaaah rindunya tak terperi. Dulu setiap Sabtu (dan kadang Minggu) dan libur hari raya saya selalu ke tempat ini. Sekarang … semua tampak asing. Tidak ada satupun yang menyapa saya. Entah kemana orang-orang yang saya kenal dulu … hu hu hu *sentimentilnya keluar. Jika dulu saya bebas keluar masuk, alias gratis, kali ini saya harus membayar Rp. 5.000 per kepala.

Baru satu kandang, masuk perpustakaan sebentar, dan walah … si Padma mengamuk minta susu. Biasanya nih, kalau sudah minum susu dia akan rewel dan tertidur. Benar saja … tak lebih dari 10 menit matanya langsung kriyep-kriyep dan akhirnya tertidur lelap di gendongan saya. Yaaah … saya sih merasa “tak penting-peting amat” untuk melanjutkan perjalanan ๐Ÿ˜€ … dan jika melihat ayah Padma yang sama kepayahannya dengan saya, akhirnya kami putuskan untuk pulang saja.

Apakah perjalanan pulang kami lancar jaya? hehe sayangnya tidak. Karena baru saja keluar dari gerbang PPS … hujan tiba-tiba turun tanpa ampun, derasnya bukan kepalang. Kami panik, pasalnya kami alpa membawa payung sementara di gendongan saya ada batita yang sedang tertidur pulas. Hampir setengah jam kami berteduh di depan loket PPS hingga akhirnya kami bisa pulang dan sedikit kebanjiran di depan pintu gerbang pintu timur TMR. Well Padma … paling tidak foto-foto ini membuktikan jika ayah-bunda sudah mengajak kamu ke Ragunan. Hehehe siapa suruh dirimu langsung tertidur padahal “kesenangan” baru saja akan dimulai? ๐Ÿ˜€

Kesenangan? kehujanan kali ๐Ÿ˜€

Bunda Padma

Re post from http://mylittlejedi.multiply.com/photos/album/20/Padma_goes_to_the_zoo with some adaptations

bundas..maaf baru bisa mulai..dan maaf saya masih baru ni dalam hal nulis2..(mohon petunjuk yak bundas bundas) ๐Ÿ˜€ ..anaknya juga kayaknya paling kecil diantara bunda smua (baru mau 6 bulan) ..jadi cerita peluk-pelukannya ga semaksimal yang lain..tp gapapala yaa..hehoheho ^_^

ย 

A kiss without a hug is like a flower without the fragrance.ย  ~Proverb

buat saya, berada di pelukan orang2 yang kita sayangi is..the best place in the world..I’m a hugger..tp masih untuk kalangan terbatas..hahah..tp lebih krn budaya sini yg lebih seneng cipika cipiki aja,, kalo engga si semua udah tak pelukinn hahah *horror yaa* ย  kebiasaan ini dimulai sejak adik saya lahir, diperparah dengan film teletubbies hahah dan sampai skarang kalau mau pisah dan ketemu sama orang2 terdekat..harus peluukk ..bahkan my hubby yang cool kayak es awalnya bingung ada penyakit apa sama saya dengan peluk-peluk ini krn sy suka bgt minta peluk..tp lama2 dia senang.. bener banget kalau orang bilang pelukan bisa membuat hidup lebih hidup dan bentuk afeksi yang bisa melenyapkan polusi diri..tapi..ga semua pelukan ini sesuai harapan..

ย justru di salah satu momen terindah dalam hidup sy, pas Keisha lahir, urusan peluk memeluk ini ga sesuai keinginan. Yes, bukan saya orang pertama yang memeluk keisha, tapi bapaknya -dan mungkin suster rs-nya- huhu.. smua krn akhirnya saya harus lewat jalan caesar, jadinya hanya bisa cium saja, boro-boro imd yang ideal deh… tapi yah..kayak rolling stone bilang, you can’t always get what you want lah yaw..yang terpenting sesaat setelah beres lahiran saya sudah merasakan pelukan ternikmat..the first mother-daughter hug! and sampai saat ini tiada hari tanpa meluk keisha deh, biarin aja sampe saatnya dia bosen dan malu dipelukin mamanya ๐Ÿ˜€

and sekarang keisha lagi sumeng abis dibawa keluar kota..jadi eke urus dan peluk-peluk dulu ya bundas..

So..have you hugged your loved ones today? :*

by: @jolie_mitra

Keisha’s mom.

akhirnya, sempet juga nulis buat blog keroyokan ini lagi, setelah beberapa hari saya kasih janji-janji tukang jahit ke momAir ๐Ÿ˜€ akhirnya sempet juga saya post pagi ini, sambil nunggu air panas buat mandi…

Pelukan,
bentuk afeksi yang paling saya suka melebihi apapun. Ratingnya ada diatas sebuah kecupan di kening. Keduanya sama-sama memiliki efek soothing yang luar biasa buat saya.
Seperti yang momAir bilang, mungkin beberapa dari kita dibesarkan dalam kondisi yang miskin pelukan. Jujur aja, saya masih dibesarkan dalam keluarga “orde lama” yang tidak terbiasa untuk mengungkapkan perasaan baik fisik maupun secara verbal, maka bersyukurlah anak-anak jaman sekarang yang orangtuanya banyak belajar untuk lebih ekspresif dalam mengungkapkan kasih sayangnya pada anak-anaknya.

As for me, saya merasa masih kurang banget dalam hal perhatian terhadap anak. Seperti ibu-ibu urban lainnya yang bekerja dan masih juggling dalam membagi waktu, tenaga dan pikiran untuk banyak hal saya merasa satu-satunya penyeimbang adalah dengan memeluk si bocah erat-erat. Saya membiasakan untuk memeluknya saat memasuki rumah dan sebelum kami tidur.
Akhir akhir ini saat saya sedang sibuk sendiri didepan laptop seringkali si bocah berlari menghambur minta dipeluk, saya terharu… hiks ๐Ÿ˜ฆ
saya cuma bisa berdoa semoga setelah ini saya bisa punya lebih banyak lagi waktu untuknya, supaya saya bisa memeluknya lebih sering dan lebih lama lagi…

 

Millions and millions of years would still not give me half enough time to describe that tiny instant of all eternity when you put your arms around me and I put my arms around you.ย  ~Jacques Prรฉvert

Hehe … Judul di atas sepintas mengingatkan saya pada salah satu lagu Afgan yang juga digunakan sebagai ilustrasi iklan produk kecantikan. Namun begitulah adanya, pelukan Padma selalu mampu meredakan emosi saya dan membuat hati saya luluh.

15 Juli 2009. Saat itu, baru saya sadari jika hidup saya telah berubah sepenuhnya, seiring dengan hadirnya bayi mungil dalam pelukan saya. Terlahir sebagai anak tunggal dan nyaris tidak pernah berhubungan langsung dengan anak-anak membuat momen itu tidak hanya dipenuhi oleh perasaan bahagia karena, akhirnya, kami memiliki seorang anak setelah 3 tahun menikah, namun kepanikan juga melanda … karena sejujurnya saya tidak tahu apa yang saya harus lakukan pada bayi yang akhirnya kami beri nama Padma itu.

Satu hal kesalahan saya selama mengandung adalah: hanya memerhatikan kebutuhan fisik saya dan bayi saja. Saya selalu mencari suplemen apa yang terbaik untuk bayi saya, susu apa yang kandungannya paling lengkap, dan aktivitas apa yang dapat membuat kesehatan saya dan bayi terjaga. Namun, saya tidak pernah menyiapkan satu hal yang menurut saya sama krusialnya: mental. Sebelum berkendara, sebaiknya Anda memanaskan mesin kendaraan terlebih dahulu. Jika sudah dirasa panas, baru kita injak gas dan kendaraan pun akan melaju. Namun dalam kondisi saya, saya terpaksa harus menginjak gas dalam-dalam kendati mesin saya masih dingin. Untuk masalah pengurusan bayi, saya merasa beruntung karena ada ibu saya yang membantu mengurus Padma, namun untuk masalah mental saya yang saat itu bisa dibilang “belum siap” menghadapi seorang bayi … saya harus survive seorang diri. Tak ayal, baby blues pun akhirnya menghampiri saya walaupun hanya sebentar.

Adaptasi tidak hanya terputus pada saat Padma menjalani masa bayinya. Justru perjuangan mental saya terasa lebih berat ketika dia menginjak masa batita. Saya dianugrahi batita yang agak keras. Jika saya bandingkan dengan sepupu-sepupunya maka Padma bisa dikategorikan batita yang lebih sulit “diatur” dan meletup-letup. Dibutuhkan kesabaran dan keterampilan ekstra untuk menghadapinya.

Jika ada pepatah yang mengatakan kalau buah tak jatuh dari pohonnya maka pepatah itu menegaskan jika saya dan Padma adalah pasangan yang serupa … serupa kerasnya :D. Sifat kami yang serupa itu membuat kami sering “beradu keras”. Hahaha mungkin bagi para bunda yang naluri keibuannya sudah tumbuh sedemikian lebatnya, tak dapat memahami hal ini … Namun itulah yang kami alami.

Saya sering berada dalam keadaan “putus asa,” ketika Padma sudah mulai “tak dapat diatur.” Kadangkala saya suka lupa jika dia masih berusia satu tahun. Saya kadang beranggapan jika dialah yang harus selalu menuruti perkataan saya. Sungguh saya malu hati, karena dengan begitu … kami tampak seperti layaknya dua orang anak-anak, bukannya ibu dan anak.

Namun dalam keadaan yang memanas itulah, saya kerap merasa seperti menemukan oase di tengah gurun pasir. Seakan dia memahami ibunya belum setangguh ibu-ibu lain dalam menghadapi batitanya yang kerap di luar kendali, dia kemudian memiliki kebiasaan yang membuat emosi saya mereda dalam seketika. Pada saat wajah saya sudah mulai menunjukkan keputusasaan, dia menghampiri saya dan memeluk saya … menyandarkan kepalanya di dada sambil mengetuk-ngetukkan jari mungilnya di lengan saya. Seketika itu juga, tak lagi saya pikirkan kekesalan yang sebelumnya melanda saya, karena pelukan Padma adalah segalanya … yang akhirnya dapat membuat saya memaklumi segala tingkah laku “anak-anaknya” dan terus mengingatkan saya untuk menjadi ibu yang seutuhnya.

Bunda Padma

Klik Kisahnya!

Pilihan Kisah

Blog Stats

  • 1,318 hits

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 4 other followers